Sabtu, 21 Mei 2016

Ustadz Abdul Hamid,S.Pd.I - Hakikat Keberkahan

Khutbah Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ؛ أَحْمَدُهُ بِمَحَامِدِهِ الَّتِي هُوَ لَهَا أَهْلٌ، وَأُثْنِي عَلَيْهِ الخَيْرَ كُلَّهُ، لَا أُحْصِيْ ثَنَاءَ عَلَيْهِ هُوَ كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ؛ إِلَهُ الأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ وَقُيُوْمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ؛ بَلَّغَ الرِسَالَةَ وَأَدَّى الأَمَانَةَ وَنَصَحَ الأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى أَتَاهُ اليَقِيْنُ, فَمَا تَرَكَ خَيْرًا إِلَّا دَلَّ الْأُمَّةَ عَلَيْهِ، وَلَا شَرًّا إِلَّا حَذَّرَهَا مِنْهُ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ:
اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ فِي السِّرِّ وَالعَلَانِيَةِ وَالغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ.
Ibadallah,
Sesungguhnya hal yang utama dan terpenting yang diharapkan oleh seorang muslim untuk dirinya, keluarganya, dan saudara-saudaranya sesama muslim adalah keberkahan. Berkah pada diri pribadi. Berkah pada harta. Berkah pada anak dan istri. Inilah harapan yang besar yang diidam-idamkan. Keberkahan yang dapat mengangkat kedudukan seseorang di dunia dan akhirat.
Harus kita pahami ibadallah, bahwa keberkahan adalah karunia Allah bagi siapa yang Dia kehendaki. Di tangan-Nya lah ketentuan itu. allah ﷻ berfirman,
مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS:Faathir | Ayat: 2).
Keberkahan adalah pemberian Allah. Oleh karena itu, Dia berfirman kepada Nabi Isa ‘alaihissalam,
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ
“dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada.” (QS:Maryam | Ayat: 31).
Ayat ini sebagai dalil bahwa keberkahan itu berasal dari Allah. Tidak akan mendapatkannya kecuali orang-orang yang Allah ﷻ beri. Dan tidak akan diberi kecuali dengan menaati-Nya dan mengikuti apa yang Dia ridhai.
Ibadallah,
Keberkahan turun kepada seseorang sesuai kadar ketaatan-Nya kepada Allah. Penjagaan seseorang terhadap perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS:Al-A’raf | Ayat: 96).
Dalam ayat di atas disebukan “beriman dan bertakwa”. Dengan dua hal inilah keberkahan didapatkan. Beriman kepada Allah artinya seorang hamba meyakini segala pokok keimanan. Sebagaimana yang kita kenal dalam rukun iman. Iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, takdir yang baik dan yang buruk. Apabila hati telah dipenuhi dengan keimanan ini dengan tulus dan sempurna, maka keberkahan itu akan Allah berikan sesuai dengan kadar keimanan itu.
Iman dan takwa. Takwa adalah menjalankan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi segala yang Dia larang. Jadi, takwa kepada Allah bukan hanya berupa pengakuan lisan atau cuma klaim saja. akan tetapi hakikat takwa adalah mengerjakan apa yang Allah perintahkan sesuai dengan cahaya petunjuk dari-Nya dan berharap pahala dari-Nya. Dan meninggalkan kemaksiatan berdasarkan cayaha petunjuk dari-Nya dengan perasaan takut terhadap adzab-Nya.
Ibadallah,
Ketika kita merenungi dua hal tadi, yakni apa yang dijelaskan dalam firman Allah,
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ
“dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada.” (QS:Maryam | Ayat: 31).
Dan firman-Nya,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS:Al-A’raf | Ayat: 96).
Maka kita akan mengetahui bagaiama keberkahan itu didapat. Ia tidak didapat kecuali dari Allah dan tidak akan diperoleh kecuali atas karnia-Nya. Tidak akan mendapatkannya kecuali orang-orang yang menaati Allah ﷻ.
Ibadallah,
Barangsiapa yang menginginkan keberkahan pada dirinya, istrinya, rumahnya, hartanya, dan anak-anaknya, maka jadilah seseorang yang menerima dan menaati perintah Allah ﷻ. Memperbanyak dzikir, memuji Allah, bertasbih kepada-Nya, dan membaca kalam-Nya. Dengan inilah keberkahan didapat.
Kemudian dengan mengerjakan shalat yang merupakan di antara sebab terbesar datangnya berkah pada seorang hamba. Menyambung silaturahim. Berbakti kepada kedua orang tua. berbuat baik kepada sesama manusia. makan dari jalan yang halal dan menjauhi yang haram. Dan ketaatan-ketaatan yang lainnya. Juga menjauhi perbuatan dosa. Dan menjauhi segala hal yang membuat Allah murka.
Ketaatan sebagai sebab datangnya berkah dan kemaksiatan sebab hilangnya berkah. Nabi ﷺ bersabda tentang seseorang yang berbohong dala jual belinya.
مَنْفَقَةٌ لِلسِّلْعَةِ ، مَمْحَقَةٌ لِلْبَرَكَةِ
“(Dusta itu) melariskan dagangan, tapi menghilangkan keberkahan.”
Keberkahan hilang dengan dusta, curang, dan menipu manusia. keberkahan itu datang dengan kejujuran, menepati janji, dan baik dalam muamalah.
Ibadallah,
Hal lainnya yang membantu kita memperoleh keberkahan adalah mengerjakan sesuatu sedari pagi. Atau berpagi-pagi dalam segala hal. Waktu pagi adalah waktu berkah sebagaimana sabda Nabi ﷺ,
بُورِكَ لأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
“Diberkahi untuk umatku di waktu pagi mereka.”
Dan sabda beliau ﷺ,
لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad dan selainnya).
Bersegera di waktu pagi, bersungguh-sungguh di waktu tersebut untuk mengerjakan hal yang bermanfaat, dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah adalah sebab datangnya keberkahan.
Ibadallah,
Sebab besar yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian orang untuk memperoleh keberkahan adalah doa. Berdoa menghadapkan diri kepada Allah dengan penuh ketulusan. Karena kita yakin di tangan-Nya lah kunci perbendaharaan langit dan bumi. Hadapkanlah diri kepada Dzat yang tidak menolak dan membuat kecewa orang-orang yang beriman. Nabi ﷺ mengajarkan sebuah doa,
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Ya Allah berkahilah kami. Berkahi pendengaran kami, penglihatan kami, hati kami, istri-istri kami, keturnan kami. Terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
Ibadallah,
Allah ﷻ menetapkan ada waktu-waktu dan tempat-tempat yang memiliki kekhususan dalam keberkahan. Dia mengistimewakan waktu tertentu dan tempat tertentu dibandingkan waktu dan tempat yang lain.
Dalam masalah waktu misalnya, Allah ﷻ mengistimewakan bulan Ramadhan dibanding bulang lainnya. Dan malam lailatul qadar dibanding malam-malam yang lain. Tentang tempat, Allah mengistimewakan Masjid al-Haram dan Masjid an-Nabawi sebagai tempat penuh berkah. Kemudian Masjid al-Aqsha. Allah ﷻ berfirman,
الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ
“Yang Kami berkahi ia dan sekitarnya.” (QS:Al-Isra | Ayat: 1).
Dan masjid-masjid lainnya secara umum. Masjid adalah bagian bumi yang paling dicintai Allah ﷻ.
Waktu-waktu dan tempat-tempat yang berkah ini tidak akan didapatkan keberkahannya kecuali dengan mengerjakan ketaatan kepada Allah di dalamnya. Mengerjakan apa yang Dia syariatkan pada keduanya. Amalan yang sesuai dengan petunjuk Alquran dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
Ibadallah,
Saat ini, ilmu agama terasa asing. Dan ketidak-tahuan kaum muslimin terhadap agamanya begitu merata. Akibatnya umat Islam tidak lagi mengenal hakikat keberkahan dan cara memperolehnya. Kemudian dengan keterbatasan pengetahuan itu, mereka meraba-raba, mencoba memperoleh berkah. Akhirnya mereka terjebak pada cara-cara yang keliru. Mereka meniru amalan-amalan masyarakat jahiliyah. Kesalahan tersebut kemudian menurun dan terus berlanjut. Kemudian generasi setelah mereka, yakni generasi sekarang, menyangka apa yang diperbuat oleh orang tua mereka adalah cara untuk memperoleh keberkahan. Nabi ﷺ menjelaskan hakikat ketida-tahuan umatnya ini dengan sabdanya dari Abu Waqid al-Laitsy,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا خَرَجَ إِلَى حُنَيْنٍ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
“Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah ﷺ keluar menuju Khaibar. Lalu, beliau melewati pohon orang musyrik yang dinamakan Dzatu Anwath. Mereka menggantungkan senjata mereka. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Subhanallah! Sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Musa: Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.” (QS. Al A’raaf: 138). Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi).
Ayyuhal mukminun,
Renungkanlah hadits yang agung ini. perhatikanlah ada amalan-amalan jahiliyah yang disangka umat Islam –karena ketidak-tahuan mereka- sebagai sarana untuk memperoleh keberkahan. Orang-orang jahiliyah biasa menggantungkan pedang-pedang mereka dipohon, lalu berputar (thawaf) mengelilingi pohon tersebut. Atau mereka duduk di sisi pohon tersebut dalam waktu yang lama. Harapannya, mereka mendapatkan keberkahan dari apa yang mereka lakukan itu. Menggantungkan pedang supaya pedangnya mendapat kesaktian. Dari hadits ini, ada tiga kesalahan yang perlu kita ketahui:
Pertama: mengagungkan pohon dengan pengagungan yang hanya layak diperuntukkan kepada Allah.
Kedua: mereka duduk-duduk di pohon tersebut mengharap berkah.
Ketiga: mereka menggantungkan pedang agar pedangnya berkah. Jadi sakti (berisi).
Ibadallah,
Saat para sahabat baru saja melalui masa jahiliyah, mengalami ketidak-tahuan dan kesesatan, Rasulullah memberikan mereka toleransi kekeliruan mereka. Oleh karena itu, sahabat Abu Waqid al-Laitsi radhiallahu ‘anhu membuka kisahnya dengan “Ketika itu kami baru saja memeluk Islam”. Maksudnya, kami belum mengetahui secara rinci hokum-hukum syariat. Jadi kami meminta kepada Nabi ﷺ permintaan buruk tersebut. Orang-orang yang sudah kokoh tauhidnya. Mengetahui implementasi tauhid secara sempurna. Juga mengetahui sebab-sebab yang bisa mengantarkan kepada kesyirikan tentu tidak akan mengatakan demikian.
Ibadallah,
Dari sini kita mengetahui bahwa keberkahan itu tidak dapat diraih kecuali dengan menaati Allah. Dan bentuk ketaatan tersebut bersumber dari syariat Allah. Seseorang tidak bisa menempuh suatu pemikiran tertentu atau pemikiran yang menyimpang dan rusak, kemudain berharap keberkahan. Seseorang juga tidak bisa menghadapkan diri ke sesuatu. Atau berdiam diri di suatu tempat. Atau mengusap suatu benda. Atau mengambil tanah di suatu daerah. Atau semisalnya yang tidak ada dalilnya dari syariat sebagai cara untuk memperoleh berkah. Maka keberkahan tidak akan didapatkan bahkan bisa jadi itu kesyirikan. Padahal kesyirikan sendiri adalah hal terbesar yang menyebabkan hilangnya keberkahan. Karena syirik adalah sebesar-besar dosa dan seburuk-buruknya perbuatan buruk.
نَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا بِأَسْمَائِهِ الحُسْنَى وَصِفَاتِهِ العُلَا أَنْ يُبَارِكَ لَنَا أَجْمَعِيْنَ فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّاتِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَأَنْ يَجْعَلَنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا، وَأَنْ يُعِيْذَنَا سُبْحَانَهُ مِنْ أَسْبَابِ مُحِقِ البَرَكَةِ إِنَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى سَمِيْعُ الدُّعَاءِ وَهُوَ أَهْلُ الرَّجَاءِ وَهُوَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الوَكِيْلِ.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ:
اِتَّقُوْا اللهَ فَإِنَ مَنِ اتَّقَى اللهُ وَقَاهُ وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرٍ أُمُوْرٍ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ.
Ibadallah,
Dalam kehidupan ini, kita berada di tempat persinggahan menuju tempat akhirat, tempat dimana kita berjumpa dengan Allah ﷻ. Oleh karena itu, orang yang cerdas adalah mereka yang menundukkan dirinya untuk beramal mempersiapkan kehidupan setelah kematian. Dan orang yang lemah adalah mereka yang mengikuti hawa nafsu tapi berangan-angan yang muluk-muluk terhadap Allah.
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وقال صلى الله عليه وسلم: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ اَلْمَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِيٍّ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، اَللَّهُمَّ اجْعَلْ وَلِيَ أَمْرِنَا مُبَارَكاً يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُ فِي أَعْمَالِهِ وَأَقْوَالِهِ وَآرَائِهِ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَأَوْقَاتِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخَّرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ, وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارِكْ وَأَنْعِمْ نَبِيَّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Ustadz Abdul Hamid,S.Pd.I - Akhlak Rasulullah


Khutbah Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ
فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى…
Ibadallah,
Diantara perintah Allah Azza wa Jalla kepada kita adalah perintah agar kita mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (al-Ahzab/33:21).
Untuk meneladani dan mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita terlebih dahulu harus mengetahui bagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kehidupannya. Maka pada hari ini, kita akan sedikit saling mengingatkan tentang keagungan pribadi dan akhlak Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga dengan mengenal dan terus mengingatnya, kita akan semakin terpacu untuk mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pribadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pribadi yang sangat agung, yang menjunjung tinggi akhlak mulia. Akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memadukan antara pemenuhan terhadap hak Allah, sebagai Rabbnya dan penghargaan kepada sesama manusia. Dengannya, hidup menjadi bahagia dan akhirnya berbuah manis. Bagaimanakah akhlak Rasulullah itu? Berikut diantaranya:
Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang hamba yang banyak sekali bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla atas nikmat-nikmat-Nya dan sering bertaubat dan beristigfar. Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat sampai kedua kaki beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bengkak, sehingga ada yang mengatakan :
يَا رَسُوْلَ اللهِ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Wahai Rasulullah! Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lewat dan yang datang?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ringan menjawab, “Apakah aku tidak mau menjadi hamba yang banyak (pandai) bersyukur?!”
Meski beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat pandai bersyukur kepada atas segala limpahan nikmat-Nya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap saja banyak beristighfar, memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla . Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
Demi Allah! Sesungguhnya aku beristigfar, memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla lebih dari 70 kali dalam sehari. (HR. al-Bukhari).
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sangat takut terhadap murka Allah Azza wa Jalla. Jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat gumpalan awan, terlihat di wajah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam isyarat seakan tidak suka. Aisyah x pernah menanyakan hal tersebut, “Wahai Rasulullah! Orang-orang umumnya senang melihat gumpalan awan karena berharap guyuran hujan, sementara engkau terlihat tidak suka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَاعَائِشَةُ وَمَا يُؤْمِنُنِى أَنْ يَكُوْنَ فِيْهِ عَذَابٌ قَدْ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيْحِ
Wahai Aisyah! Adakah yang memberi jaminan kepadaku bahwa tidak ada adzab dibalik awan itu? Karena ada juga kaum yang diadzab dengan menggunakan angin.
Meski demikian, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling berani. Pada suatu malam penduduk madinah dikejutkan oleh suara keras, sehingga mereka semuanya bergegas menuju kearah suara. Saat mereka sedang berangkat menuju sumber suara, justru mereka berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang dalam perjalanan pulang dari sumber suara. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendatangi sumber suara sebelum yang lain.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga seorang yang sangat lembut dan tidak tergesa-gesa. Suatu ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berjumpa dengan seorang arab badui lalu orang itu menarik selendang yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kenakan dipundak sehingga meninggalkan bekas pada pundak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam . Lalu orang itu berkata,”Wahai Muhammad, berilah aku sebagian dari harta yang Allah Azza wa Jalla berikan kepadamu!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak marah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh dan menyuruh kepada para shahabatnya agar memberikan sesuatu kepada orang ini. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Kisah lain datang dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu yang pernah tinggal dan membantu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 10 tahun, baik dalam perjalanan maupun ketika di rumah. Anas Radhiyallahu anhu menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 10 tahun tidak pernah mengatakan ‘Uh” kepadanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak pernah menyalahkan Anas Radhiyallahu anhu terhadap apa yang dilakukan, dengan mengatakan, “Kenapa engkau melakukan ini?” atau terhadap apa yang tidak dilakukan, dengan mengatakan, “Kenapa enkau tinggalkan?” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul siapapun dengan tangan beliau, meskipun seorang pembantu kecuali dalam kondisi jihad fi sabilillah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak pernah melakukan aksi pembalasan terhadap semua perlakuan buruk yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam alami kecuali jika perlakukan buruk tersebut sudah masuk kategori pelanggaran terhadap apa yang diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla , maka saat itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan pembalasan karena Allah Azza wa Jalla (HR. Muslim).
Betapa tinggi serta mulia akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Al-Qalam/68:4)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang paling agung, paling mulia dan paling luhur akhlaknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan perbuatan nista, tidak pernah mencela dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah tipe orang yang suka melaknat.
Jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi dua pilihan, maka beliau akan memilih yang paling ringan dan mudah selama pilihan yang paling ringan dan mudah itu tidak mengandung dosa. Jika mengandung dosa, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling darinya. (HR. al-Bukhari).
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga adalah seorang yang sangat dermawan terutama pada bulan Ramadhan. Kedermawanan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalahkan angin yang berhembus. Jika ada yang meminta sesuatu kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam atas nama Islam, maksudnya untuk memotivasinya agar masuk, maka pasti beliau akan berikan, meskipun itu besar. Perhatikanlah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ghanimah (harta rampasan perang) kepada seorang arab badui yang meminta ghanimah. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ghanimah yang sangat banyak karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berharap orang ini dan pengikutnya mendapatkan kebaikan. Setelah mendapatkan ghanimah yang sangat banyak tersebut, orang itu pulang ke kaumnya dan mengatakan :
يَاقَوْمِ أَسْلِمُوْا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِي عَطَاءَ مَنْ لاَ يَخْشَى الْفَاقَةَ
Wahai kaumku, masuklah kalian ke agama Islam, karena Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sesuatu sebagaimana pemberian orang yang tidak takut kemiskinan (HR. Muslim).
Akhlak mulia beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berikutnya adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat zuhud terhadap dunia, padahal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam Rasulullah, utusan Allah Azza wa Jalla , Rabb yang maha kaya. Jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menginginkan dunia, maka pasti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa mendapatkannya, namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menginginkannya. Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan pilihan antara hidup di dunia semaunya ataukah menemui Rabbnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih untuk menemui Rabbnya, maksudnya meninggal. (HR. al-Bukhari).
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menahan lapar selama berhari-hari, karena tidak memiliki makanan yang bisa digunakan untuk mengganjal perut.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan dunia ini tanpa meninggalkan harta warisan berupa emas, perak maupun binatang ternak. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya meninggalkan senjata dan baju besi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang digadaikan kepada seorang yahudi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Subhanallah, bagaimanakah dengan kita?! Padahal beliau adalah Rasulullah, yang pasti terjaga dan tidak akan terfitnah oleh dunia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemimpin juga sangat perhatian dengan umatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kadang jalan untuk melihat dari dekat keadaan para janda dan orang-orang miskin. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam penuhi panggilan atau undangan mereka dan jika mampu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memenuhi kebutuhan mereka. (HR. an-Nasai).
أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ:
عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى
Ibadallah,
Pergaulan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya sebatas orang-orang dewasa saja, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mendatangi dan mengucapkan salam kepada anak-anak kecil serta mencandai mereka. Namun perlu diingat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengucapkan perkataan dusta, meski sedang bercanda. Pernah ada yang mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّكَ تُدَاعِبُنَا قَالَ إِنِّي لاَ أَقُوْلُ إِلاَّ حَقًّا
Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mencandai kami,” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya saya tidak mengucapkan apapun kecuali yang benar.” (HR. al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, no. 265 dan at-Tirmidzi, no. 1990 dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu)
Itulah sedikit gambaran akhlak Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , orang yang diutus oleh sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (al-Anbiya’/21:107).
وَاعْلَمُوْا أَنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ .
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ عَلِيٍّ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ فِي أَرْضِ الشَامِ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ حَافِظاً وَمُعِيْنًا وَمُسَدِّداً وَمُؤَيِّدًا،
اَللَّهُمَّ وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ العَمَلَ الَّذِيْ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ. اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةَ مُهْتَدِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عباد الله، (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ* وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ) [النحل:90-91]، فاذكروا اللهَ يذكرْكم، واشكُروه على نعمِه يزِدْكم، ولذِكْرُ اللهِ أكبرُ، واللهُ يعلمُ ما تصنعون.